Indikator Pengukur Trend yang Paling Populer di Kalangan Trader

Posted on Jan 10, 2018

indikator-pengukur-trend-yang-paling-populer-di-kalangan-trader

Trend adalah hal yang paling dicari oleh para trader forex. Ada dua hal penyebabnya. Yang pertama, tentu saja untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Apabila seorang trader mampu membaca arah trend yang akan terjadi, bukan mustahil ia bisa mengantongi banyak keuntungan dalam sekali trading saja.

Alasan kedua kenapa trader mencari sinyal adanya trend adalah untuk menghindari kerugian. Saat sedang asyik-asyiknya mengeruk keuntungan dari kondisi pasar yang sedang sideways, datangnya trend secara tiba-tiba berpotensi membuat keuntungan yang sudah kita dapatkan dengan jerih payah akan menguap begitu saja.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan perkiraan akan datangnya sebuah trend? Cara paling mudahnya adalah dengan menggunakan indikator pengukur trend. Ada empat indikator pengukur trend yang paling umum digunakan oleh para trader profesional, yakni:

  1. Bollinger bands
  2. Parabolic SAR
  3. Average Directional Index (ADX)
  4. Ichimoku Kinko Hyo

Bollinger bands

Indikator ini diciptakan oleh John Bollinger dengan tujuan untuk mengukur tingkat volatilitas pasar. Pada dasarnya, bollinger bands memberikan informasi di mana pasar sedang “adem ayem” atau justru sedang “ramai”. Di saat pasar sedang adem, garis-garis bollinger akan merapat, sedangkan di saat sedang ramai, garis-garis bollinger akan melebar.

Berikut contohnya:

Bollinger-bands

Yak, benar sekali. Kondisi pasar adem di mana garis bollinger merapat adalah kondisi di mana pasar sedang bergerak sideways atau ranging. Sedangkan saat garis bollinger melebar kondisi pasar berubah menjadi trending. Ada dua strategi trading yang bisa anda jalankan menggunakan indikator ini, yakni bollinger bounce dan bollinger squeeze.

Bollinger bounce adalah strategi menggunakan indikator bollinger bands di saat pasar sedang ranging. Strategi ini tidak cocok untuk digunakan saat pasar sedang trending. Mari kita lihat aplikasinya di contoh gambar di bawah ini:

Bollinger-bounce

Dalam kondisi pasar yang sedang ranging, bollinger bands bisa berfungsi sebagai support & resistance yang dinamis. Saat harga menyentuh garis bawah, harga akan bergerak naik kembali, namun setelah sampai di level resistance, yakni garis bollinger paling atas, harga akan bergerak kembali ke bawah.

Namun perhatikan saat garis bollinger tiba-tiba melebar yang menandakan pasar berubah menjadi trending. Support & resistance dinamis tidak bisa diperlakukan lagi dan harga terus merangsek naik setelah menyentuh level resistance. Di sini strategi kedua bermain, yakni Bollinger squeeze.

Bollinger squeeze adalah strategi trading menggunakan indikator bollinger bands yang menandakan bahwa merapatnya garis-garis bollinger adalah sinyal bahwa breakout akan segera terjadi. Seperti pada contoh gambar di atas, alih-alih harga kembali bergerak ke bawah setelah menyentuh level resistance, harga justru terus naik dan diiringi dengan melebarnya garis bollinger.

Parabolic SAR

Kalau indikator Bollinger bermanfaat digunakan untuk mendeteksi kapan sebuah trend akan dimulai, Parabolic SAR adalah kebalikannya. Indikator ini sangat berguna untuk mendeteksi kapan kiranya sebuah trend berakhir dan waktunya keluar dari pasar dengan keuntungan yang sudah diperoleh. Berikut penampakan dari indikator parabolic SAR.

Parabolic-SAR-1

Cara penggunaannya pun cukup mudah. Jika titik-titik parabolic SAR berada di atas candlestick, itu artinya kondisi pasar sedang downtrend. Namun jika titik-titik parabolic SAR berada di bawah, artinya pasar sedang uptrend. Iya, sesederhana itu kok penggunaannya.

Namun mohon diingat-ingat ya, indikator ini berfungsi dengan baik saat kondisi pasar sedang trending. Di saat pasar sedang ranging atau sideways, parabolic SAR cenderung tidak memberikan sinyal yang tepat.

Untuk mengetahui kapan trend sudah berakhir, caranya tak kalah mudahnya. Tugas anda hanyalah mencari tiga titik indikator parabolic SAR yang menjadi tanda bahwa trend mungkin sudah berbalik arah. Begini contohnya:

 

Parabolic-SAR-3

Mudah bukan cara menggunakan indikator parabolic SAR? Yuk, lanjut ke pembahasan indikator berikutnya, yakni Average Directional Index atau ADX.

Average Directional Movement Index (ADX)

ADX adalah indikator yang bisa digunakan untuk mengukur kekuatan dari trend yang sedang terjadi. Ada tiga garis yang terdapat di layar ADX, yakni garis +DI dan -DI, serta garis ADX itu sendiri. Garis +DI mengindikasikan seberapa kuat uptrend yang sedang terjadi, -DI menginformasikan seberapa kuat downtrend yang sedang terjadi dan garis ADX adalah rata-rata dari kedua garis tersebut.

Garis ADX tidak menunjukkan apakah downtrend atau uptrend yang sedang terjadi, namun menunjukkan seberapa kuat trend yang sedang terjadi. Indikator ADX memiliki rentang antara 0 – 100. Namun yang perlu anda perhatikan adalah bilamana garis ADX berada di atas 50 atau di bawah 20. Di atas 50 artinya trend yang sedang terjadi cukup kuat, sedangkan jika berada di bawah 20 artinya trend cukup lemah atau pasar sedang ranging.

Dalam penggunaannya, ADX bisa digunakan untuk melihat potensi awal trend. Caranya, jika garis ADX mulai bergerak naik dari angka 20 dan terus menanjak, bisa jadi ada trend kuat yang sedang terjadi. Berikut contoh gambarnya:

ADX-trending-1

Bisa dilihat dari gambar di atas, garis ADX (hijau) mulai meninggalkan level 20 dan mulai beranjak naik. Tercermin dari barisan candlestick hijau yang berderetan di atasnya menandakan adanya trend. Sedangkan untuk melihat trend apakah yang sedang terjadi, bisa dilihat dari garis -DI (merah) yang terus turun ke bawah mengisyaratkan tidak adanya downtrend, alias sedang terjadi uptrend yang cukup kuat.

Pemanfaatan lainnya dari indikator ini adalah ketika garis -DI dan +DI saling bersilangan untuk mencari sinyal jual atau beli. Jika garis -DI memotong garis +DI dari atas dan garis -DI terus bergerak ke bawah, sementara garis +DI naik ke atas, ini adalah sinyal untuk buy karena uptrend sedang berlangsung. Begitu pula sebaliknya.

Ichimoku Kinko Hyo

Di antara indikator lainnya, Ichimoku Kinko Hyo (ICH) adalah indikator yang paling kompleks dan paling sulit untuk dipelajari. Hal ini dikarenakan ICH berfungsi untuk mengukur momentum pergerakan harga berikutnya, sekaligus sebagai penentu area support & resistance dinamis. Tiga fungsi sekaligus bisa anda dapatkan hanya dengan menggunakan 1 indikator.

Ada empat garis yang terdapat di indikator ini, yakni kijun sen, tenkan sen, chikou span, dan senkou span. Melihat dari namanya, tidak salah jika anda mengatakan bahwa indikator ini diciptakan oleh orang Jepang. Tak hanya itu saja, banyak trader mengatakan bahwa indikator ini paling cocok untuk digunakan pada pair JPY.

Berikut penampakan dari ICH:

Ichimoku-kinko-hyo

Bingung melihat begitu banyaknya garis di layar MT4 anda seperti ini? Jangan khawatir! Mari kita bahas satu persatu apa kegunaan dari masing-masing garis dengan nama yang unik ini, serta bagaimana caranya mencari sinyal trading menggunakan indikator ICH.

Senkou span

Banyak trader menyebut senkou span ini sebagai “awan” karena memang begitulah bentuknya, seperti awan yang berwarna orange dan abu-abu. Trader menggunakan awan senkou sebagai “area” support dan resistance. Sederhananya, jika awan senkou berada di bawah barisan candlestick, ia berfungsi sebagai support. Sedangkan jika awan senkou berada di atas barisan candlestick, ia menjadi resistance.

Dilihat dari gambar di atas, awan senkou ada yang berwarna oranye dan ada yang berwarna abu-abu. Jika awan berwara oranye, artinya kondisi pasar forex sedang bullish. Namun jika awan berwarna abu-abu, itu berarti kondisinya sedang bearish.

Kijun sen

Garis kijun sen berfungsi sebagai indikator pergerakan harga di masa depan. Simpelnya, jika harga bergerak di atas garis kijun sen, maka ada kemungkinan harga akan terus menanjak. Sedangkan jika harga bergerak di bawah garis kijun sen, maka besar kemungkinan harga akan terus merosot.

Tenkan sen

Garis tenkan sen yang biasanya berwarna merah ini menandakan pergerakan trend yang sedang terjadi di pasar. Cara bacanya pun sederhana, jika garisnya bergerak ke atas, itu artinya sedang terjadi uptrend, namun jika garisnya turun ke bawah, berarti sedang ada downtrend. Namun jika garis bergerak mendatar, maknanya adalah kondisi pasar sedang ranging.

Chikou span

Garis terakhir yang ada di indikator ICH adalah chikou span yang umumnya berwarna hijau. Trader mengamati garis ini untuk mengetahui kapan waktu yang paling baik untuk buka posisi buy atau sell. Caranya? Gampang kok!

Jika garis hijau chikou span memotong barisan candlestick dari bawah ke atas, itu adalah sinyal untuk beli, sedangkan jika garis chikou span bergerak dari bawah ke atas dan memotong barisan candlestick, yang demikian adalah sinyal untuk sell. Sederhana bukan?

Nah, itu dia empat indikator yang banyak digunakan oleh trader untuk membaca arah pergerakan trend. Di artikel berikutnya, kita akan melihat indikator-indikator apa saja yang bisa anda gunakan untuk bersifat oscillator, yakni MACD, Stochastic dan RSI. Klik tombol di bawah ini untuk lanjut ke artikel tersebut:

3 Indikator Oscillator Paling Populer di Kalangan Trader

There are no comments yet

  • Hello, guest