Scaling In dan Scaling Out: Definisi dan Fungsinya Dalam Manajemen Resiko

Posted on Feb 28, 2018

Scaling-In-dan-Scaling-Out-Definisi-dan-Fungsinya-Dalam-Manajemen-Resiko

Scaling secara harafiah artinya menimbang. Namun dalam trading forex, scaling bukanlah menimbang berat badan anda sebelum dan sesudah trading. Scaling artinya adalah menambahkan atau mengurangi jumlah lot dari posisi trading anda yang sedang berjalan.

Scaling bisa membantu anda untuk menyesuaikan resiko yang diterima, atau memaksimalkan potensi keuntungan. Namun, scaling juga memiliki potensi merugikan yang harus anda awasi. Nah, maka dari itu kita harus mempelajari seperti apanya melakukan scaling dengan benar, sehingga bukannya resiko yang meningkat namun justru keuntungan yang menjadi berlipat!

Ada dua cara melakukan scaling, yakni scaling out dan scaling in. Mari kita bahas bersama dari yang pertama, yakni scaling in.

Scaling out

Scaling out adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk mengurangi kerugian yang sedang anda derita. Jika teknik ini dipadukan dengan trailing stop, anda bisa mendapati sebuah trading yang “hampir” bebas dari resiko. Mari kita gunakan contoh kasus agar lebih mudah dalam penjelasannya.

  1. Kita andaikan anda memiliki $10.000 dan sedang buka posisi SELL, dengan lot sebesar 0.1, untuk pair EUR/USD, di harga 1.3000.
  2. Anda pun menempatkan stop loss di angka 1.3100 dan mengincar profit sebanyak 300 pips, atau tepatnya di angka 1.2700.
  3. Dengan besar lot 0.1, pergerakan 1 pip nilainya sama dengan $1.
  4. Dengan resiko sebanyak 100 pips, nilai potensi kerugian anda sebanyak $100, atau 1% dari total modal anda.
  5. Beberapa hari kemudian, EUR/USD harganya turun ke 1.2900, atau 100 pips ke arah yang anda inginkan. Artinya anda sudah berhasil mendapatkan 100% profit atau modal anda bertambah sebanyak 1%.
  6. Namun tiba-tiba, The Fed memberikan komentar yang mungkin berakibat harga USD melemah.
  7. Anda pun berpikir, “news ini mungkin mengakibatkan semakin banyaknya seller di pasar, sedangkan saya tak tahu sampai kapan harga EUR/USD terus turun, sebaiknya saya pasang posisi BUY sekarang.”
  8. Anda kemudian buka posisi BUY EUR/USD dengan besar lot 0.05, sementara harga EUR/USD berada di angka 1.2900.
  9. Langkah ini menjamin anda akan mendapatkan keuntungan sebanyak $50 [di lot 0.05, 1 pip-nya bernilai $0.50, sementara harga sudah bergerak ke 1.2900, atau 100 pips (100 pips x $0.050 = $50)]
  10. Sekarang, anda bisa menggeser stop loss anda ke level impas (1.3000) untuk menjadikan trading anda “bebas dari resiko”.
  11. Jika harga kemudian bergerak naik dan menyentuh titik stop loss yang sudah anda geser, maka anda tidak akan rugi apa-apa.
  12. Namun jika harga terus bergerak turun, maka anda akan mendapatkan keuntungan sebanyak $150 ($0.50 per pip x 300 pips = $150).
  13. Ditambah dengan keuntungkan yang sudah anda dapatkan sebelumnya (point no. 9), maka total keuntungan yang bisa anda dapatkan yakni sebanyak $200.

Berikut ilustrasi yang memudahkan anda untuk memvisualisasi contoh kasus di atas:

scaling-out

Scaling out memberikan ketenangan batin karena ke mana pun harga bergerak, anda masih bisa tetap mendapatkan keuntungan. Konsekuensinya, keuntungan yang anda dapatkan lebih kecil dibandingkan dengan jika anda tidak menggunakan scaling out. Lalu, manakah yang anda pilih? Profit lebih banyak, atau lebih tenang tidur di malam hari? Kami kembalikan pilihan ini pada anda.

Scaling in

Di scaling out, anda membuka posisi baru di saat harga bergerak di luar prediksi anda. Hal ini dilakukan untuk menutup potensi kerugian, ke mana pun harga mata uang akan bergerak. Namun sebelum anda memutuskan untuk menjalankan scaling in, pastikan anda mengikuti peraturan sebagai berikut:

  • Wajib gunakan stop loss dan stop loss tersebut tidak boleh diubah-ubah.
  • Level di mana anda masuk pasar harus anda rencanakan sebelum anda mulai trading.
  • Ukuran lot harus ditentukan sebelum trading dan total resiko dari masing-masing posisi harus berada di zona nyaman anda.

Apakah anda bersedia mengikuti tiga peraturan tersebut? Sudah siap untuk menjalankan scaling in? Nah, mari kita lihat penjelasannya melalui contoh kasus berikut ini:

scaling-in

  • Dari grafik di atas, kita bisa lihat bahwa harga bergerak turun dari 1.3200, setelah itu masuk ke area konsolidasi antara 1.2900 dan 1.3000, sebelum breakout ke bawah.
  • Setelah turun sampai ke 1.2700, harga kembali naik ke area konsolidasi.
  • Dari analisa yang dilakukan, anda pun menyimpulkan bahwa harga akan melanjutkan downtrend-nya. Namun, anda tak yakin di mana sebaiknya anda buka posisi.
  • Ada beberapa skenario yang bisa anda gunakan:
    • Pilihan buka posisi #1: SELL di saat support berubah jadi resistance di harga 1.2900, atau di level terendah area konsolidasi. Kekurangannya, harga mungkin bergerak naik dan anda kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan (misalnya anda pasang SELL di harga 1.3000)
    • Pilihan buka posisi #2: SELL di saat harga naik ke level resistance area konsolidasi (1.3000). Kekurangannya, ada kemungkinan harga tidak naik kembali ke level resistance. Anda pun melewatkan kesempatan trading di level support area konsolidasi karena terlalu lama menunggu harga naik ke level area resistance.
    • Pilihan buka posisi #3: SELL setelah pair beberapa kali menyentuh level resistance sebelum kembali ke level support area konsolidasi (1.2900) dan melanjutkan downtrend. Cara ini adalah yang paling banyak digunakan oleh trader, namun kekurangannya sama seperti pilihan yang pertama.
    • Pilihan buka posisi #4: buka posisi SELL di masing-masing level support dan resistance area konsolidasi. Ini adalah pilihan yang cukup masuk akal. Berikut rencana trading dari pilihan nomor 4 ini:
  • Rencana trading dengan scaling in:
    • Tentukan stop loss: katakanlah anda memasang stop loss di angka 1.3100. Jika harga masuk di level ini, artinya analisis yang anda lakukan keliru dan justru uptrend yang terbentuk, bukannya downtrend.
    • Tentukan entry point: seperti yang disepakati sebelumnya, anda pasang posisi SELL di angka 1.3000 dan 1.2900.
    • Tentukan besar lot: mari kita andaikan anda punya modal $5000 dan tidak mau kehilangan lebih dari 2% atau $100 di trading kali ini.
    • Trading setup:
      • Buka posisi SELL dengan lot 0.02 di harga 1.2900. Dengan ini, nilai pergerakan satu pip bernilai $0.25. Dengan stop loss di harga 1.3100, anda punya jendela 200 pips. Jika stop loss anda tersentuh, anda hanya akan kehilangan uang sebanyak $50.
      • Buka posisi SELL dengan lot 0.05 di harga 1.3000. Dengan ini, nilai pergerakan satu pip bernilai $0.50. Dengan stop loss di harga 1.3100, anda punya jendela 100 pips. Jika stop loss anda tersentuh, anda hanya akan kehilangan uang sebanyak $50.
      • Jika dua trading setup ini tidak berhasil, anda hanya kehilangan dana sebanyak $100 atau 2% dari total modal anda. Mudah bukan?!
    • Gabungan dari kedua lot sebesar 0.07 dengan harga rata-rata 1.2966 dan jarak stop loss sebanyak 134 pips.
    • Jika harga turun setelah kedua posisi terbuka, rasio 1:1 risk dan reward-nya (profit $100) bisa dicapai ketika harga sampai di angka 1.2832 [didapat dari 1.2966 (harga rata-rata) – 134 pips (angka stop loss)].

Itu dia penjelasan singkat mengenai scaling out dan scaling in di trading forex. Berikutnya kita akan membahas mengenai bagaimana caranya menjadi seorang trader yang lebih baik dengan memanfaatkan korelasi antar kurs. Klik tombol di bawah ini untuk membaca artikel tersebut:

Korelasi Antar Kurs : Pengertian dan Cara Penggunaannya di Trading Forex

There are no comments yet

  • Hello, guest